Wacana Pemecatan Riedl Sarat Kepentingan PSSI
Sabtu, 23 Oktober 2010 | 04:20 WIB

AFP/LIU JIN
Pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl.
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Iman Arif, sangat menyayangkan adanya wacana pemecatan pelatih Alfred Riedl bila timnas gagal di Piala AFF. Baginya, wacana itu sarat kepentingan yang mengabaikan nilai-nilai profesionalisme.
Wacana itu berasal dari pernyataan yang dilontarkan oleh Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, dan Sekjen PSSI, Nugraha Besoes. Setelah timnas mengalami kekalahan memalukan dari Uruguay 1-7 dalam laga uji coba, Nurdin langsung mengancam bakal memecat Riedl bila Indonesia gagal di Piala AFF.
Belum reda pernyataan itu, Nugraha kembali melontarkan pernyataan sama. "Juara atau tidak juara di Piala AFF, Riedl belum tentu dipertahankan," jelas Nugraha, Kamis (21/10/2010).
Hal itu mengisyaratkan bahwa pelatih asal Austria itu belum tentu dipertahankan menukangi "Merah Putih" di SEA Games Desember 2011. Terkait sikap PSSI tersebut, Iman mengaku sungguh menyayangkan bila kontrak Riedl diputus di tengah jalan.
"Saya kurang setuju dengan hal tersebut. Riedl dikontrak hingga Maret 2012 sesudah SEA Games. Dalam klausul kontraknya tidak ada perjanjian yang menyebutkan bahwa Riedl akan dipecat bila gagal di Piala AFF," jelas Iman.
"Gaji coach per bulannya 15.000 dolar AS atau Rp 135 juta dikalikan dua tahun kontraknya. Otomatis kalau diputus di tengah jalan, sisanya harus dibayar. Apa sanggup PSSI dengan kondisi itu ditambah penilaian yang belum terbukti?" lanjutnya.
Iman berharap, PSSI bisa berpikir jernih terkait keputusan tersebut. Baginya, ada tiga faktor penting yang perlu dipertimbangkan PSSI. "Pertama, paramater pemecatan harus berdasarkan penilaian objektif. Misalnya, prestasi Riedl, kemampuan tim apakah bisa meningkat, sistem kepelatihan, strategi, dan hasil tim dalam turnamen," papar Iman.
Yang paling penting bagi Iman, keputusan tersebut justru akan menimbulkan preseden buruk bagi Indonesia di mata dunia. "Enggak malu kita kalau sebentar-sebentar pecat pelatih," tegas Iman.
Lebih lanjut Iman mengatakan, "Menurut saya, PSSI sangat sarat kepentingan sehingga penanaman soal sepak bola modern terabaikan berdasarkan azas transparansi dan profesionalisme. Bukan hanya sepak bola nasional itu kurang prestasi tetapi tidak ada keinginan melakukan perubahan ke arah yang baik. Namun, masyarakat sekarang sudah cerdas dan bisa menilai. Menurut saya, tinggal kita tekankan kepada masyarakat untuk ikut terlibat dalam perbaikan sepak bola nasional," tutupnya.
Wacana itu berasal dari pernyataan yang dilontarkan oleh Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, dan Sekjen PSSI, Nugraha Besoes. Setelah timnas mengalami kekalahan memalukan dari Uruguay 1-7 dalam laga uji coba, Nurdin langsung mengancam bakal memecat Riedl bila Indonesia gagal di Piala AFF.
Belum reda pernyataan itu, Nugraha kembali melontarkan pernyataan sama. "Juara atau tidak juara di Piala AFF, Riedl belum tentu dipertahankan," jelas Nugraha, Kamis (21/10/2010).
Hal itu mengisyaratkan bahwa pelatih asal Austria itu belum tentu dipertahankan menukangi "Merah Putih" di SEA Games Desember 2011. Terkait sikap PSSI tersebut, Iman mengaku sungguh menyayangkan bila kontrak Riedl diputus di tengah jalan.
"Saya kurang setuju dengan hal tersebut. Riedl dikontrak hingga Maret 2012 sesudah SEA Games. Dalam klausul kontraknya tidak ada perjanjian yang menyebutkan bahwa Riedl akan dipecat bila gagal di Piala AFF," jelas Iman.
"Gaji coach per bulannya 15.000 dolar AS atau Rp 135 juta dikalikan dua tahun kontraknya. Otomatis kalau diputus di tengah jalan, sisanya harus dibayar. Apa sanggup PSSI dengan kondisi itu ditambah penilaian yang belum terbukti?" lanjutnya.
Iman berharap, PSSI bisa berpikir jernih terkait keputusan tersebut. Baginya, ada tiga faktor penting yang perlu dipertimbangkan PSSI. "Pertama, paramater pemecatan harus berdasarkan penilaian objektif. Misalnya, prestasi Riedl, kemampuan tim apakah bisa meningkat, sistem kepelatihan, strategi, dan hasil tim dalam turnamen," papar Iman.
Yang paling penting bagi Iman, keputusan tersebut justru akan menimbulkan preseden buruk bagi Indonesia di mata dunia. "Enggak malu kita kalau sebentar-sebentar pecat pelatih," tegas Iman.
Lebih lanjut Iman mengatakan, "Menurut saya, PSSI sangat sarat kepentingan sehingga penanaman soal sepak bola modern terabaikan berdasarkan azas transparansi dan profesionalisme. Bukan hanya sepak bola nasional itu kurang prestasi tetapi tidak ada keinginan melakukan perubahan ke arah yang baik. Namun, masyarakat sekarang sudah cerdas dan bisa menilai. Menurut saya, tinggal kita tekankan kepada masyarakat untuk ikut terlibat dalam perbaikan sepak bola nasional," tutupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar